Saatnya Desain Bandar Udara Nusantara Berjaya

Bandar udara adalah pintu gerbang Sebuah kota, yang pertama kali dilihat oleh tamu ketika mendarat di suatu kota. Bentuk dan desain bandar udara akan melekat erat di benak tamu dan menjadi impresi pertama yang selalu diingatnya. Pentingnya keberadaan dan desain bandar udara ini membuat PT Propan Raya menggagas sebuah sayembara desain arsitektur nusantara yang bertema “ Desain Bandar Udara Nusantara 2015”, bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan dan didukung oleh IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), HDII ( Himpunan Desainer Interior Indonesia), INIAS Resource Center, GBCI ( Green Building Council Indonesia) dan Rumah Asuh.

Sayembara ini merupakan trilogi Sayembara Desain Arsitektur Nusantara yang diadakan PT Propan Raya. Sayembara pertama diluncurkan tahun 2013 bertema “Rumah Budaya Nusantara “, dan Sayembara Desain Arsitektur Nusantara yang kedua dibuat tahun 2014 dengan tema “ Desa Wisata Nusantara” Mengapa mengambil tema Nusantara? Menurut Hendra Adidarma, Presiden Direktur PT Propan Raya, hal ini ditujukan untuk mengangkat kembali Arsitektur Nusantara. “Sebagai perusahaan asli Indonesia yang produk-produknya didesain sesuai dengan iklim tropis, Propan ingin berbuat sesuatu untuk Indonesia melalui dukungan terhadap gerakan bangunan hijau dan kepedulian terhadap arsitektur Nusantara.”

Yori Antar, Principal Architect Han Awal & Partners yang juga merupakan ketua dewan juri Sayembara Desain Arsitektur Nusantara-3, mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia sangat kaya sehingga dapat menjadi aset bangsa untuk menarik wisatawan untuk datang. Bandar udara dapat dijadikan ajang untuk mempromosikan arsitektur nusantara. Sayangnya, bandar udara yang ada di Indonesia kebanyakan belum merepresentasikan kebudayaan dan arsitektur nusantara. “Masuknya tren arsitektur dunia barat adalah salah satu penyebabnya.

Bandar udara di Indonesia kebanyakan memiliki bentuk yang hampir sama atau bentuk mengacu ke barat, yang tidak kontekstual dan sesuai dengan budaya, iklim, dan kondisi lingkungan setempat,” tutur Yori. Teguh Pratomo, Kepala Sub Direktorat Personil dan Operasi Bandar Udara Kementrian Perhubungan RI, menyambut baik dilaksanakannya Sayembara Desain Bandar Udara Nusantara 2015 ini. Menurutnya, desain bandar udara yang baik juga dapat meningkatkan imaji suatu kota dan menjadi ikon yang dapat diingat oleh para wisatawan yang datang.

Sayembara yang peluncurannya telah dilakukan pada Malam Arsitektur Nusantara-3, 21 Agustus 2015 lalu, akan digawangi oleh para juri yang ahli di bidang transportasi, perancangan, dan Arsitektur Nusantara yakni Yori Antar ( Ketua Dewan Juri), Naning Adiwoso, Andra Matin, Dharmali Kusumadi, Anggia Murni, Satrio Suryo Herlambang, Agus Santoso, Teguh Pratomo dan Liela Ubaidi. Site yang dibidik untuk sayembara Desain Bandar Udara Nusantara adalah Bandar Udara Mali di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Rencananya, desain bandar udara tersebut akan diimplementasikan dalam waktu 2-5 tahun ke depan.

Bandar udara tentunya dilengkapi genset yang berguna sebagai sumber listrik alternatif. Dengan kapasitas yang besar akan menampung semua kebutuhan listrik di Bandar Udara. Untuk mendapatkan harga genset yang murah bisa membelinya di Distributor resmi jual genset 1000 Kva di Surabaya. Dengan harga yang masih bisa dinegosiasikan akan sangat menguntungkan.