Menengok Perjalanan Dinar

Nah, mari kita intip sejenak sejarah perjalanan dinar mulai dari awal hingga keberadaannya di Indonesia yang kita cintai ini. Sejatinya, dinar adalah asli mata uang yang berlaku di kawasan Romawi dan Juga Persia jauh sebeleum datangnya Nabi Muhammad.

Kala itu, selain dinar, mata uang asli lainnya adalah dirham. Saat itu, sebagaimana kita ketahui bahwa Romawi dan Persia adalah dua negera adidaya kala itu. Jika merujuk pada Romawi dan Persia, maka jelas dan dan perlu diingat bahwa dinar menunjukkan bukanlah mata uang negara-negera Arab sebagamana disangkakan kita selama ini. kurs dollar

Benar bahwa dinar dan dirham beredar di negara-negara Arab saat itu, tetapi itu semua bukan mata uang bangsa Arab. Keberadaan dinar saat itu karena dibawa oleh pengaruh kedatangan para pedagang Arab yang melakukan perniagaan di negeri Syam yang kala itu berada di bawah kekuasaan Romawi dan juga melakukan perdagangan di tanah Yaman yang masih berada pada pengaruh kekuasaan Persia.

Sementara tradisi barter yang ada pada masyarakat Arab semakin menguatkan kalau memang mereka tak memiliki mata uang karena sekali lagi dinar atau pun dirham itu adalah mata uang Romawi dan Persia.

Masyarakat Arab melakukan transaksi dengan tukar menukar, semisal garam ditukar dengan kulit unta, dan seterusnya. Selanjutnya, dinar dan dirham kemudian berlaku hingga meluas. Bahkan pemerintah Islam yang saat itu berkuasa hanya melakukan estafet penggunaan dinar dan dirham sebagai mata uang pembayaran dan tidak mempersoalkan dari Romawi atau Persiakah mata itu dicetak.

Hal ini juga terjadi pada era Nabi Muhammad saw. Era ini juga melakukan standarisasi dengan memberlakukan tiga jenis dirham yang selama ini beredar menjadi satu jenis dirham saja yang kemudian dalam dunia sejarah dikenal dengan sebutan rdirham 14 qirat.

Selanjutnya, para pemimpin Islam pasca Muhammad juga memiliki kebijakan yang beda terkait dengan dinar. Sebagaimana ditemukan pada masa Umar Ibn Khattab yang jelas-jelas mempertegas masalah timbangan emas dan perak, dimana 7 dinar adalah sama dengan atau setara 10 dirham. Sementara pada ukuran lain, 1 dinar sama juga atau setara 1 mitsqol atau juga setara dengan keberadaan gandum potong ujung sebanyak 27.

Sementara itu, keberadaan dinar sendiri pada pemerintahan Islam baru ada pada masa Abdul Malik Bin Marwan. Sebagaimana kita ketahui, jika merujuk pada sepak terjang Muhammad, maka sudah melewati sekira 50 tahun wafatnya Rasulallah.

Nah, lantas bagaimana dengan perkembangan dinar saat ini? Maka sebagaimana diketahui bahwa berat dinar pada zaman modern ini adalah 4,25 gram. Perhitungan ini masih berkiblat pada berat dinar yang telah diberlakukan oleh Abdul Malik Bin Marwan yang ternyata masih tersimpan rapi di Museum London.

Akan tetapi, muncul perdebatan yang sangat kental saat ini. Ada yang mempertanyakan apakah ada jaminan jelas yang bisa menjelaskan apakah dinar pada masa Abdul Malik ini juga pada akhirnya memiliki berat yang sama dengan dinar pada masa Muhammad.

Pasalnya, ada yang mengatakan, tentunya berdasarkan data dan riset, bahwa saat itu, Abdul Malik Ibn Marwan memberlakukan berat dirham bukan mengacu pada standar mitsqal yang sudah lazim digunakan oleh masa Nabi Muhammad. Abdul Malik kemudian diyakini mengacu pada standar penggunaan solidus yang tak lain dan tak bukan adalah mata uang Romawi Byzantium yang memang lazim beredar saat itu.

Nah, jika memang yang terjadi pada sejarah dinar demikian, maka wajar jika pertanyaan yang paling banyak diajukan saat ini terkait dengan maraknya panawaran investasi syariah berbasis dinar adalah apakah berat dinar yang 4,25 gram atau bahkan yang lebih ringan yang mengacu pada solidus, bisa menjamin atau paling tidak mewakili berat yang sama dengan dinar pada masa Nabi Muhammad?

Ini terkait dengan ungkapan bahwa dinar adalah sunah Rasul. Jika berangkat dari sini, lantas apakah ini sunah Nabi Muhammad atau sunahnya Abdul Malik Bin Marwan? Itulah yang menjadi perdebatan hingga hari ini, terkait dengan penggunaan dinar atau juga dirham dalam transaksi keseharian itu. Nampaknya masih butuh waktu panjang guna meyakinkan pasar agar mau menggunakan dinar sebagai mata uang yang berlaku dan berpahala sunah.