Kevin Kumala : Sampah Merusak Pariwisata Indonesia

Kevin Kumala merupakan pendiri dari perusahaan Avani Eco, perusahaan tersebut merupakan perusahaan start-up berbasis sains yang terinspirasi dari sampah plastik yang terus menjadi masalah di seluruh penjuru dunia, terutama karna sampah plastik sulit terurai secara alami. Avani Eco muncul sebagai perusahaan yang membuat kantong yang memiliki struktur seperti plastik tapi terbuat dari berbagai macam bahan organik yang ramah lingkungan dan gampang terurai. Setelah menyelesaikan studi biologi dan kedokteran di Amerika, saya kembali ke Indonesia dan saya tergugah ketika melihat Bali berubah dengan sangat luar biasa. Pantai-pantai Bali yang dulunya indah dan bersih, kotor dengan tumpukan plastik.

Keprihatinan ini yang mendorong saya untuk berkolaborasi dengan berbagai mitra untuk menghadirkan solusi bagi masalah plastik yang sudah menjadi epidemi ini. Avani saat ini menyediakan solusi bagi masalah plastik dunia dengan menawarkan produk-produk yang 100% biodegradable dan compostable, serta sudah bersertifikasi Internasional, ujarnya. Saat ini Avani Eco sudah menerima banyak undangan dari berbagai Negara. Saat ini kesibukan saya adalah sering traveling untuk mengetahui dan memperdalam keseriusan mereka dalam menggunakan produk-produk Avani demi memberantas masalah polusi plastik yang terjadi di negara-negara tersebut ujarnya.

Pria kelahiran 1985 ini sudah banyak mendapatkan prestasi dengan perusahaan yang telah ia dirikan, salah satunya yaitu berhasil meraih the Most Valued Business Award pada 2017. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan yang melakukan praktik bisnis yang baik dan berkelanjutan, berdasarkan pada nilai akuntabilitas, kejujuran, dan prinsip-prinsip transparansi. Penghargaan ini diberikan kepada Avani karena Avani dianggap sebagai bisnis yang tidak hanya berfokus pada profit, namun juga memberikan kepedulian yang besar terhadap karyawan, komunitas, lingkungan, Negara, dan Bumi ini.

Kevin Kumala yang merupakan lulusan Amerika ini beranggapan bahwa Avani Eco dapat membantu memajukan pariwisata Indonesia karena Sampah telah menjadi ancaman industri pariwisata di Indonesia sehingga sangat beresiko terhadap pengembangan industri pariwisata yang merupakan sektor penyumbang anggaran terbesar bagi Indonesia. Banyaknya sampah plastik tentu akan mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata berbasis alam. 64 PESONA Edisi Juli-September 2017 65 PESONA Edisi Juli-September 2017 55 55 Pemahaman masyarakat tentang bahaya konsumsi plastik dan dikombinasikan dengan solusi yang kami sediakan tentu akan menjadi solusi integratif untuk menjaga dan melestarikan alam dan sumber daya wisata Indonesia, ujarnya.

Sebagai orang yang baru dalam mendirikan start up seperti Avani Eco, Kevin Kumala bercita-cita kedepannya masyarakat semakin peduli terhadap masalah plastik dan solusi-solusi yang ditawarkan oleh perusahaan seperti avani Eco bisa diterima dengan luas serta mendapat dukungan dari setiap pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun masyarakat pada umumnya. Selain serius mengembangkan avani Eco, kevin Kumala rupanya juga suka traveling.

Kevin mempunyai destinasi-destinasi wisata alam terbaik di indonesia yang sering ia kunjungi, destinasi tersebut yaitu Bali, Raja Ampat, Komodo, Manado, Gorontalo, Medan, Banten, Palembang, dan Pulau Jawa. Menurut Kevin, Budaya adalah signature of Indonesia. BUDAYA asli Indonesia kaya akan pesan dan kearifan. Budaya Indonesia sebagai ciri khas bangsa Indonesia merupakan warisan secara turun temurun yang harus di lestarikan sebagaimana mestinya. Budaya ini dikombinasikan dengan kekayaan alam menjadi ciri khas yang sudah seharusnya menempatkan Indonesia di dalam peta pariwisata internasional, ujarnya.

Kevin sangat perduli dengan industri pariwisata di Indonesia, ia berharap pariwisata Indonesia kedepannya dapat dikembangkan, lingkungannya bisa terjaga, kulturnya bisa terjaga. Founder Avani Eco ini berujar bahwa “Besar harapan saya bahwa percepatan-percepatan di sektor pariwisata juga diimbangi dengan percepatan pembentukan regulasi-regulasi yang mampu melindungi titik-titik wisata kita khususnya yang berbasis alam. Regulasi-regulasi yang bisa membatasi konsumsi plastik akan menjadi hal yang sangat strategis bagi perlindungan titik pariwisata kita.